Dari papan tulis kapur ke layar sentuh raksasa: transformasi ruang kelas Indonesia kini memasuki babak baru. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaporkan bahwa program Digitalisasi Pembelajaran telah menjangkau ratusan ribu sekolah, dengan Papan Interaktif Digital (PID) sebagai perangkat utamanya. Capaian itu dipaparkan dalam Taklimat Media Dua Tahun Capaian Kemendikdasmen di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Pada 2025, sebanyak 288.865 sekolah menerima perangkat PID beserta perangkat pendukung berupa laptop dan diska keras. Pada 2026, distribusi PID berlanjut dengan 72.258 unit. Bersamaan dengan itu, pemerintah menyediakan akses listrik bagi 2.389 sekolah, akses internet bagi 8.152 sekolah, serta pendampingan pemanfaatan PID bagi 126.097 sekolah.
“Dua tahun pertama ini merupakan periode penting untuk membangun fondasi pendidikan bermutu bagi semua. Angka-angka capaian yang kita raih hari ini bukanlah hasil akhir, melainkan parameter dan tolok ukur bagi kami untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan demi mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, dalam taklimat media tersebut.
Dari Janji Layar di Setiap Sekolah
Program ini berawal dari janji Presiden Prabowo Subianto pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional di Jakarta, 28 November 2024. Saat itu Presiden menyampaikan keinginannya menghadirkan layar televisi canggih di setiap sekolah, agar semua anak — termasuk yang sekolahnya kekurangan guru — bisa menerima pelajaran terbaik.
Janji itu kemudian diwujudkan Mendikdasmen dalam bentuk Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel (IFP), didukung Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan dan revitalisasi satuan pendidikan serta digitalisasi pembelajaran. Secara bertahap, PID dikirim ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, dan guru-guru dilatih pemanfaatannya.
Pada pembukaan Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah di Depok, Jawa Barat, 9 Februari 2026, Mu’ti menyatakan distribusi PID sudah berjalan baik. “Alhamdulillah, seluruhnya untuk 288 ribu sekian satuan pendidikan, sudah terdistribusi 100 persen dan hampir seluruhnya sudah mulai dipergunakan,” ujarnya.
Perjalanan PID tidak berhenti di satu perangkat per sekolah. Presiden menginstruksikan keberlanjutan distribusi: tiga PID per sekolah pada 2026 dan dua PID per sekolah pada 2027. Artinya, pada 2027 setiap sekolah ditargetkan memiliki setidaknya enam PID.
Bukan Sekadar Layar, tetapi Cara Belajar Baru
Mu’ti menegaskan bahwa ukuran keberhasilan digitalisasi bukan sekadar tersedianya perangkat di sekolah, melainkan sejauh mana teknologi membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi murid. “Kehadiran PID ini berguna untuk memudahkan semuanya dalam menimba ilmu, membuat proses belajar menjadi lebih menarik, serta kaya akan kreativitas dengan pola interaktif,” ujarnya.
Contohnya terlihat pada pembelajaran sains. Di SMAN 1 Indralaya, guru memanfaatkan PID untuk memvisualisasikan teori kinetik gas pada hukum Boyle. Siswa tidak lagi sekadar mengabstraksi hubungan antara tekanan, volume, dan suhu, melainkan menyaksikan langsung simulasi pergerakan partikel, gesekan antarpartikel, hingga indikator tutup wadah yang terlepas sebagai tanda tekanan yang sangat besar dalam sistem.
Menurut Kepala SMAN 1 Indralaya, Pudyo Laksono, visualisasi tersebut membuat siswa lebih aktif berdiskusi dan lebih cepat menangkap hubungan antarvariabel. Di sekolah itu, pemanfaatan PID juga dilakukan secara kolaboratif: tim penjaminan mutu sekolah membuat proyek percontohan sekaligus mengimbaskan prosedur operasional standar penggunaan perangkat kepada guru-guru lain agar perangkat tetap awet dan terjaga.
Di jenjang lain, manfaat serupa dirasakan. Kepala SMPN 1 Lubuk Liat, Marion, menilai siswa tidak mengalami kesulitan beradaptasi karena sistem berbasis Android pada PID sudah akrab dalam keseharian mereka. Sementara Kepala SDN 6 Pemulutan Barat, Desi Huswinda, melihat PID sebagai sarana penting untuk menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan dinamis, termasuk bagi siswa di pedesaan.
Koding dan AI Menjadi Mata Pelajaran Pilihan
Digitalisasi pembelajaran tidak hanya soal perangkat. Dalam taklimat media yang sama, Kemendikdasmen mencatat pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI) telah diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan di 20.167 sekolah. Langkah ini sejalan dengan pelatihan koding dan AI bagi guru yang telah berjalan sepanjang 2025–2026, serta pelatihan Pembelajaran Mendalam yang diikuti ratusan ribu pendidik.
Untuk melengkapi perangkat, Kemendikdasmen juga meluncurkan Rumah Pendidikan, sebuah superaplikasi yang menyatukan berbagai layanan pendidikan digital dalam satu pintu. Aplikasi ini terdiri atas delapan ruang terintegrasi dengan konten video pembelajaran interaktif, artikel, laboratorium maya, gim edukasi, hingga latihan soal, yang memudahkan guru dan peserta didik mengakses sumber belajar.
Dukungan bagi guru juga disiapkan lewat bimbingan teknis pemanfaatan PID. Kemendikdasmen telah melaksanakan pelatihan bagi 64 ribu guru, serta menempatkan 1.450 guru dan tenaga kependidikan sebagai Pejuang Pendidikan Digital — mentor yang membantu sekolah menerapkan pembelajaran dengan PID dan Rumah Pendidikan.
Tantangan yang Masih Harus Dijawab
Pelaksanaan program ini tidak sepenuhnya tanpa kendala. Salah satu tantangan terbesar adalah akses jaringan internet yang terkadang terbatas, yang bisa memengaruhi optimalisasi penggunaan PID di beberapa daerah. Dukungan pemerintah daerah juga menjadi penentu: dinas pendidikan perlu memberikan pelatihan guru, pendampingan berkelanjutan lewat pengawas sekolah, dan forum berbagi praktik baik antar sekolah.
Bagi sekolah di daerah 3T dan wilayah marginal yang belum sepenuhnya siap dari sisi listrik dan koneksi internet, pemerintah menyiapkan kolaborasi bertahap dengan pihak terkait, termasuk penyediaan internet satelit bagi sekolah yang belum terjangkau jaringan. Tujuannya satu: agar PID tidak hanya menjadi media presentasi, tetapi benar-benar meningkatkan interaksi dua arah di kelas.
Untuk saat ini, pesan bagi guru jelas: perangkat sudah tersedia di ratusan ribu sekolah, konten dan pelatihan terus diperluas, dan pemanfaatannya bergantung pada kreativitas guru di ruang kelas. Sekolah yang sudah menerima PID disarankan memanfaatkan pendampingan yang tersedia dan berbagi praktik baik dengan sekolah lain, agar investasi digital ini benar-benar mengubah cara anak belajar.
Penutup
Digitalisasi pembelajaran menunjukkan bahwa perubahan pendidikan tidak hanya dibangun lewat gedung baru, tetapi juga lewat layar di depan kelas. Dengan 288.865 sekolah yang telah menerima PID, koding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan di 20.167 sekolah, serta rencana penambahan perangkat hingga 2027, ruang kelas Indonesia sedang berubah — dari menghafal rumus menjadi melihat, menyentuh, dan memahami prosesnya secara langsung.
Rincian resmi mengenai sasaran dan jadwal distribusi perangkat digitalisasi pembelajaran mengikuti pengumuman Kemendikdasmen. Artikel ini disusun berdasarkan data capaian yang dipaparkan dalam Taklimat Media Dua Tahun Capaian Kemendikdasmen, Senin (26/10/2026), serta siaran resmi Kemendikdasmen.

